Popular Post

Posted by : Rimia Alkahestry Thursday, December 06, 2012


Sooyoon membuka mata. Keringat mengalir deras dari pelipisnya. Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi padanya? Ia merasa tubuhnya seperti mendidih, panas sekali. Ia memegangi kedua belah pipinya bergantian, juga dahinya. Kepalanya berat dan dunia serasa berputar-putar. Ya Tuhan.
“Astaga, kenapa demammu bisa tinggi seperti ini, Park Sooyoon?” ia mendapati kakaknya menyentuh dahinya. Wajah Chanyeol terlihat cemas. Sooyoon tidak suka melihat kakaknya cemas. Wajah kakaknya jadi terlihat aneh. Sooyoon mendengar Chanyeol mendesis.
Sooyoon tersenyum lemah. “Aku tidak apa-apa.”
Chanyeol mengerutkan alis. Ia menarik tangannya dari dahi adiknya. “Kenapa kau bisa demam seperti ini?” ia mendesak adiknya dengan pertanyaan.
“Aku tadi, yah, kehujanan,” jawab Sooyoon. Kepalanya berdenyut menyakitkan dan terasa berat sekali. Rasanya ia hanya sanggup berbaring. Jika tidak, kepalanya akan serasa berputar-putar seperti ini. Ia merasa buruk. Sejam yang lalu ia baru pulang dari kampusnya. Hujan mengguyur kota deras sekali dan ia tidak bawa payung. Ia berlarian dari halte bus ke rumah. Itu pilihan terburuk karena ia sama sekali tidak selamat dari gulir-gulir hujan. Namun, ia bersikeras melakukannya karena ia merasa sangat lelah dan ingin cepat beristirahat.
Setelah berganti pakaian dan merasa udara di sekelilingnya masih dingin, Sooyoon membawa selimut tebalnya ke ruang tengah. Ia akan sendirian di rumah sepanjang hari, ayah di kantor dan Chanyeol di lokasi proyek, jadi ia memutuskan untuk tidur-tiduran di ruang keluarga sambil menonton televisi. Sooyoon tidak menduga ia ketiduran dan kakaknya pulang lebih awal dari biasa. Ia juga tak menduga kakaknya pulang lebih awal dari biasa. Kakaknya itu tampak terkaget-kaget melihat ia yang bergulung dengan selimut tebal dan terlihat seperti ulat besar.
“Yah, kau sudah makan?” tanya Chanyeol sambil meletakkan tas besarnya di sofa yang lain. Sooyoon hanya menggeleng tanpa menjawab. “Sudah minum obat?” kali ini Sooyoon menggeleng dan meringis, dan sesaat kemudian ia merasakan kepalanya kembali berdenyut-denyut menyakitkan. Sepertinya selama demamnya belum turun, kepalanya akan terus sakit seperti ini. Aish.
“Astaga anak ini.” Chanyeol mendesis lagi dengan tidak sabar. “Pantas saja kau sakit seperti ini,” sambungnya lagi. Ia mengecek jam tangannya. “Aku ingin membuatkan bubur untukmu tapi aku harus segera kembali ke lokasi proyek.” Ia mengusap belakang kepalanya dengan gelisah.
Sooyoon tertawa sumbang. “Tidak apa, Oppa. Aku bisa memasak bubur sendiri, kau tahu.” Meski ia berkata begitu, ia tidak yakin ia bisa melakukannya, tidak jika kepalanya terus berdenyut menyakitkan seperti ini.
Chanyeol mengerutkan alis. “Apakah kepalamu tidak sakit? Kau hanya demam?”
“Kepalaku sakit, yah, begitulah,” jawab Sooyoon menggantung.
“Harus ada yang membuatkanmu sesuatu,” kata Chanyeol sambil merogoh ponsel dalam saku celana.
“Oppa akan menghubungi siapa?” tanya Sooyoon, bingung melihat kakaknya sibuk menyentuh-nyentuh layar ponsel.
“Kyungsoo.”
Mata Sooyoon melebar. Mengapa kakaknya ini langsung menghubungi Kyungsoo? Yah, semua orang tahu Kyungsoo pandai memasak. Masakannya pun tidak bisa dianggap remeh. Masakannya super lezat. Kyungsoo pernah memasak untuk Sooyoon saat mereka merayakan ulang tahun pemuda itu Januari lalu. Dan kini Sooyoon tidak mengerti mengapa kakaknya menelpon Kyungsoo. Kyungsoo tetap bersikap dingin padanya hingga hari ini. Sooyoon tidak berniat membiarkannya, namun ia kehabisan kata-kata saat berhadapan dengan pemuda itu. Ia semakin merasa ia berbicara kepada patung. Tidak, bukannya ia menyerah mengetahui alasan pemuda itu mendiamkannya seperti ini. Hanya saja terkadang ia merasa menyedihkan. Menyedihkan karena ia merasa ia telah benar-benar kehilangan teman baiknya.
“Kenapa Oppa menghubungi dia?” tanya Sooyoon, menyuarakan pertanyaan dalam kepalanya. Ia perlahan memijat pelipis.
“Kenapa katamu?” Chanyeol mengerling adiknya. “Apakah harus aku menghubungi Baekhyun? Katamu dia sedang berada di Gwangju,” sambungnya dengan sewot.
“Yah, dia memang masih di Gwangju,” jawab Sooyoon pelan. Baekhyun belum kembali ke Seoul karena tur pertandingan itu. Ini sudah hampir dua minggu. Pemuda itu hanya sesekali menelpon Sooyoon dan berkata ia sibuk dengan pertandingan-pertandingan, juga pertandingan-pertandingan murid-muridnya. Sooyoon melihat pemuda itu sangat tenggelam dalam pekerjaan. Akan sangat menyenangkan melakukan pekerjaan yang kausukai, tentu saja. Sooyoon tidak keberatan pemuda itu jarang menghubunginya, asalkan di sana pemuda itu senang dan tidak merasa kesepian.
Sooyoon kembali teringat pada mimpinya sebelum ia dibangunkan oleh kakaknya. Ia masih tidak mengerti mengapa ia mendapat mimpi itu. Ia seolah dikembalikan ke kejadian dua tahun yang lalu namun dalam sisi yang berbeda. Sisi yang tidak pernah ia lihat dan tidak pernah ingin ia lihat? Ruangan gelap yang menjadi terang-benderang itu kamar lamanya, setidaknya itu yang ia pikirkan, namun ia sendiri tidak yakin. Lalu ia melihat dirinya sendiri di cermin, dan cermin itu memantulkan kamarnya yang sebenarnya. Lalu kamar gelap itu ruangan apa? Jika disejajarkan tentu ruangan sebelah kamar aslinya adalah kamar Chanyeol. Tidak mungkin di satu kamar bertumpuk menjadi dua. Jadi ruangan itu tidak pernah ada, bukan? Lalu Baekhyun ada di sana, dan pemuda itu mengatakan satu kalimat yang sangat familiar yang pernah ia dengar saat ia melihat pemuda itu di dalam cermin.
Yah, kau tidak gila, Agassi.
Apakah ruangan itu ruangan dalam cermin?
“Kyungsoo orang pertama yang aku ingat,” kata Chanyeol lagi, membuyarkan lamunan Sooyoon. “Yah, lagipula mau sampai kapan kalian bertengkar seperti ini? Apa yang sebenarnya kalian perkarakan? Kalian seperti anak kecil saja. Usiamu berapa tahun ini, Park Sooyoon? Tidak bisakah kau bersikap dewasa?” semprotnya.
Sooyoon mendengus keras. “Bukan aku yang tidak bisa bersikap dewasa, Oppa. Tapi Kyungsoo,” katanya kesal. “Aku sendiri tidak tahu mengapa dia menjadi berbeda seperti itu,” sambungnya.
“Oh, sudahlah.” Chanyeol menyudahi perdebatan mereka. Sooyoon menekuk wajah.
“Kurasa Kyungsoo tidak akan datang kemari, Oppa. Dia pasti sangat sibuk,” katanya.
“Kau pasti bercanda. Dia sendiri bilang padaku dia libur hari ini,” balas Chanyeol, masih menunggu teleponnya diangkat oleh Kyungsoo. Apa? Sooyoon mengerutkan dahi. Ia pikir Kyungsoo selalu sibuk dan tidak mendapat libur. Sesaat kemudian wajah kakaknya sedikit berubah cerah. “Kyungsoo?... kau di mana?... bisa datang ke rumah?... Sooyoon, dia sedang demam. Bisa kau tolong jaga dia?... aku harus ke lokasi proyek… ya, ya, baiklah… sampai nanti!”
Sooyoon melihat kakaknya menoleh ke arahnya. Kakaknya itu tersenyum kecil dan berjalan menu tangga. “Kyungsoo akan datang. Ya Tuhan, aku harus cepat mengambil alat proyek itu dan kembali ke lokasi!” ia terdengar panik dan menaiki tangga dengan terburu-buru. Sooyoon menutup mata. Ia menyandarkan kepalanya ke bantal. Kepalanya berat sekali.

--

Sooyoon tertidur lagi dan ia mendapat mimpi yang lebih aneh. Kakaknya datang dengan tergopoh-gopoh dari lokasi proyek dan dengan alat-alat proyek yang menggantung di bahu. Kakaknya berkata bahwa ia akan berhenti bekerja di lokasi dan akan beralih profesi sebagai wartawan. Dengan sekejap Chanyeol sudah berganti pakaian, ia memakai mantel coklat panjang. Rambutnya tertata rapi dan ia membawa-bawa kamera dengan lensa panjang dan blitz besar. Sooyoon kebingungan melihat kakaknya yang meminta dukungannya dan memintanya membujuk ayah mereka agar setuju dengan keputusannya menjadi wartawan. Belum sempat Sooyoon berbicara dengan ayah mereka, mimpinya sudah berganti lagi. Kakaknya tetap menjadi tokoh utama. Ia berkata kepada Sooyoon bahwa ia menemukan lampu aneh di loteng mereka. Begitu ia menggosok-gosoknya, seorang anak kecil bersayap muncul bak peri, dan anak kecil ini tampak persis seperti sepupu mereka yang tinggal di Daegu, Jongin. Anak yang mirip Jongin itu berkata bahwa ia bisa mengabulkan keinginan Chanyeol. Akhirnya Chanyeol mengutarakan keinginan kecilnya sejak dulu dan begitu ia keluar dari limosin, entah bagaimana ia bisa berada di dalam sana, ia disambut banyak penggemar dan juga wartawan. Ia telah menjadi bintang besar.
Mimpi yang sangat aneh itu lantas membangunkan Sooyoon. Ia langsung terduduk dan sesuatu yang berat dan basah meluncur dari dahinya dan jatuh ke pangkuannya. Ia mengambil benda itu dan mengamatinya. Handuk kecil? Oh. Ia lantas menyentuh dahinya dan menyadari demamnya sudah turun. Ia membuang napas. Sepertinya demam membuatnya mendapat mimpi yang tak keruan. Syukurlah demamnya sudah turun. Entah mimpi apa lagi yang akan datang kepadanya dan siapa lagi yang akan jadi tokoh utama. Membingungkan sekali.
Ia menegakkan tubuh begitu mencium aroma yang enak dari dapur. Apakah Oppa sudah kembali? Sooyoon berjalan pelan ke arah dapur begitu perutnya berbunyi. Ia belum makan apapun sejak siang dan begitu ia melongok ke jendela, semburat oranye sudah muncul di langit. Walaupun aneh, ia ingin menceritakan mimpi anehnya pada Chanyeol. Mimpi tentang dirinya saja, tentu saja. Mimpinya tentang ruangan gelap itu tentu akan susah dijelaskan. Lagipula Chanyeol tidak pernah tahu tentang Baekhyun yang memang tadinya ada di dalam cermin. Sooyoon salah menebak, ia pikir kakaknya yang sedang memasak. Ia melupakan satu fakta sebelum ia tertidur, bahwa kakaknya menelpon Kyungsoo untuk datang.
Jadi Kyungsoo benar-benar datang? Pikir Sooyoon. Ia sudah mencapai dapur saat ia melihat punggung yang sangat familiar untuknya. Kyungsoo terlihat sibuk memasak dan menambahi beberapa bumbu. Dapur di rumah Sooyoon ini tidak pernah asing untuk Kyungsoo karena pemuda itu sudah sering kemari. Ia hapal di mana peralatan, bahan dan  bumbu-bumbu berada. Sooyoon mungkin melangkah terlalu ringan karena Kyungsoo sama sekali bergeming. Berada dalam situasi begini pun Sooyoon merasa diacuhkan oleh Kyungsoo. Ia tertegun. Ia memutuskan untuk berbalik dan berjalan kembali ke ruang tengah.
“Sooyoon?”
Sooyoon menoleh dan mendapati Kyungsoo sedang memandanginya. Ekspresi cemas terlukis jelas di wajah pemuda itu. Pemuda itu sudah tidak menatap Sooyoon dengan tatapan tidak menyenangkan itu lagi. Sooyoon hanya mematung dan tersenyum kecil, yang mungkin terlihat aneh. Pemuda itu lekas menghampirinya. Ia menyentuh dahi Sooyoon dengan segera dan kemudian membuang napas lega beberapa detik sesudahnya.
“Syukurlah demammu sudah turun.” Kyungsoo menurunkan tangannya. Sooyoon hanya mengangguk. Entahlah, mendapati Kyungsoo berbicara kembali padanya membuatnya bingung. Pemuda itu sudah mengacuhkannya lebih dari sebulan dan kini pemuda itu berbicara dengan nada biasa, seolah dirinya tidak pernah mengacuhkannya sebelumnya. Bukankah itu hal yang cukup aneh?
Kyungsoo kembali menghadap panci dan berkata kepada Sooyoon,”kembalilah ke ruang tengah. Sebentar lagi buburnya siap.”
Tak lama kemudian, Kyungsoo datang ke ruang tengah dengan semangkuk bubur mengepul. Aromanya semakin lama semakin menggelitik hidung Sooyoon. Ia merasa semakin lapar. Ia menghadap bubur di depannya dengan tidak sabar. Kyungsoo duduk di sebelah Sooyoon, memperhatikan setiap gerakan yang Sooyoon ciptakan. Sooyoon masih melihat raut cemas itu. Oh, Sooyoon tidak suka bila orang-orang berwajah cemas. Mereka akan terlihat aneh. Yah, ia tidak begitu suka orang memandanginya dengan cemas sementara ia merasa baik-baik saja. Ya, ia merasa sehat sekarang. Dan sepertinya akan semakin sehat saat ia memakan bubur hangat dan enak di depannya. Oh, ia sungguh kelaparan.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Kyungsoo dengan nada cemas, saat melihat Sooyoon mulai menyantap bubur dengan tekun. Sooyoon menoleh dengan sesendok bubur yang sudah siap masuk ke mulutnya.
“Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan.” Ia berkata, lalu bubur itu masuk ke dalam mulutnya. Lezat sekali bubur buatan Kyungsoo ini. Semua masakan Kyungsoo memang sangat lezat. Ia terus menghabiskan buburnya tanpa memandang Kyungsoo yang masih memandanginya. Sebenarnya ada hal yang ingin ia tanyakan. Apakah ia harus menanyakannya sekarang? Sejauh ini Kyungsoo baru berbicara sedikit padanya. Sooyoon ragu bila ia mengungkit-ngungkit tentang hal ini, pemuda itu kembali berhenti bicara padanya. Namun apa yang bisa dilakukannya? Ia sungguh ingin tahu alasan mengapa pemuda itu mengacuhkannya.
“Kukira kau tidak datang,” kata Sooyoon akhirnya. “Maksudku saat Oppa menelponmu, kupikir kau tidak mau datang. Kukira kau tidak peduli padaku lagi.” ia tertawa hambar. Ia melirik Kyungsoo dan pemuda itu tampak tertegun. Sooyoon mengerjap. Apakah ia telah mengatakan sesuatu yang salah? Dan kemudian ia mendengar sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
“Aku minta maaf,” kata Kyungsoo pelan. Ia menunduk dan wajahnya berkerut menyesal, ia seperti berpikir keras. “Aku berhenti bicara padamu. Aku punya banyak masalah, yah, seperti itulah.” Pemuda itu mengangkat bahu.
Sooyoon mengangguk paham. Jadi benar pemuda itu sedang punya banyak masalah. Ternyata dugaannya benar. “Kau tahu, jika kau punya masalah, kau bisa menceritakannya padaku. Aku akan membantumu.”
“Aku tau itu.” Kyungsoo tersenyum, senyum yang selalu Sooyoon sukai. Melihat senyum itu membuat Sooyoon turut tersenyum. Sudah berapa lama ia tidak melihat pemuda itu tersenyum? Rasanya sudah lama sekali. Dan kali ini ia merasa tenang dan lega. Ia merasa ia sudah menemukan teman baiknya kembali. Ia merasa senang sampai akhirnya ia merasa hal ini lebih baik daripada semangkuk bubur hangat di depannya. Ya, hal ini membuatnya merasa jauh lebih baik. Ia mendadak kehilangan rasa laparnya. Ia merasa sudah kenyang.
“Nah, apa masalahmu itu?” tanya Sooyoon ingin tahu. Ia menanyakannya dengan hati-hati.
“Apa kau yakin kau bisa membantuku?” tanya Kyungsoo dengan nada bergurau. Sooyoon tertawa. Ia sungguh merindukan saat-saat bercanda seperti ini dengan Kyungsoo. Kyungsoo tertawa kecil, namun ia menatap Sooyoon dengan lurus. Tawanya perlahan menghilang. “Aku hanya sedang memastikan sesuatu.”
Memastikan apa?
Sebelum Sooyoon sempat bertanya, pemuda itu sudah kembali berbicara
“Tapi akhirnya aku sadar satu hal,” pemuda itu berkata lagi.
Sooyoon mengerjap. “Apa itu?”
Kyungsoo mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di punggung Sooyoon. Sooyoon hampir saja menjatuhkan sendok yang ia pegang karena terkejut. Astaga, anak ini, kenapa tiba-tiba? Ia kebingungan. Kyungsoo tampak tidak bergerak dan terus mendekapnya seperti ini, lama kelamaan semakin erat. Ini adalah pertama kali Kyungsoo mendekap Sooyoon seperti ini. Sooyoon jadi merasa aneh. Temannya ini menjadi sangat aneh hari ini. Sepertinya pemuda ini memang butuh dihibur.
“Yah, aku tidak bisa tidak peduli padamu, Sooyoon.”
Kedua mata Sooyoon melebar. Apa? Meski tidak begitu mengerti arah pembicaraan Kyungsoo yang tiba-tiba berbelok seperti ini, Sooyoon berusaha menjawab pemuda itu,”Sudah tentu kau tidak bisa tidak peduli pada teman baikmu ini, bukan?” katanya, ia tertawa. Entah mengapa setelah ia mengatakan itu, dekapan Kyungsoo sedikit menegang.
“Jangan jatuh sakit lagi,” kata pemuda itu akhirnya. Sooyoon mengangguk dan merasakan pemuda itu tersenyum di sebelah kepalanya.
“Aku tidak akan membuatmu cemas lagi. Kau tenang saja,” katanya.
“Sungguh?”
“Ya. Aku tidak mungkin membuatmu cemas seumur hidupmu, bukan?” ia tertawa.
“Kurasa aku akan terus mencemaskanmu seumur hidupku.”

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 나의 무한한 세계~♬ - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -